Selasa, 29 Desember 2015

RANTING YANG PATAH

RANTING YANG PATAH
Oleh Euis Shakilaraya

Aku menatap tubuh yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Kakiku membeku di tirai penghalang untuk ruangan rawat inap kelas tiga. Hampir satu jam sudah aku hanya berdiri dan melihat tubuh di depanku tak bergerak. Hanya naik turun dadanya dengan ritme sangat pelan yang membuatku yakin tubuh di depanku masih bernyawa. Pernapasannya bermasalah sehingga harus dibantu oleh oksigen dari rumah sakit. Satu dua butir airmataku mulai menetes. Aku menyekanya pelan dengan ujung kerudung biru muda yang aku pakai. Sesak rasanya. Bahkan kakiku tak mampu untuk mendekat. Aku ingat sakitnya saat berkali-kali ia mematahkan hatiku. Meninggalkanku. Menghianatiku. Rasanya seperti tercabik namun tak dapat membenci. Seperti membenci namun tak boleh membenci. Seperti sekarat namun tak diijinkan mati. Ia adalah ayahku. Ya, ayahku.

Sekitar satu tahun yang lalu, bencana besar itu datang ke keluargaku. Badai rumah tangga yang ayah dan ibu tak mampu melewatinya. Ibu kabur bersama laki-laki pilihannya. Meninggalkan aku dan ayah yang menggigil karena ketakutan untuk melanjutkan hidup tanpa ibu. Ayah menjadi sangat pemurung. Ia seolah kehilangan bintangnya. Ditinggalkan oleh ibu adalah kenyataan terburuk di sepanjang hidupnya. Membuat memori ingatannya mengabur. Ia tak ingat lagi bahwa masih ada aku yang setia menemaninya dan menyemangatinya untuk kembali menata kehidupan. Aku, ditinggalkan. Ia lebih memilih tinggal di tanah perantauannya. Napasku mulai memburu. Mengingat seluruh kejadian itu hanya membuatku semakin sakit. Aku melihat tubuh di depanku bergerak. Ia membenarkan posisi tidurnya. Rasanya ingin membantunya menyamankan posisi tidurnya. Namun keinginan itu menguap begitu saja. Aku masih belum dapat meringankan langkahku untuk mendekat.

Kemarin, masih aku dengar suaranya melalui telepon. Ia mengabarkan bahwa dirinya sedang dalam keadaan yang amat berbahaya. Aku hanya mampu menghela napas. Sudah sangat lelah menghadapi satu per satu drama sialan yang diperankan langsung oleh kedua orang tuaku. Ia terus saja mengoceh akan hal-hal yang menyulitkan otakku untuk berpikir. Kemarin merupakan telepon pertamanya setelah hampir satu tahun meninggalkanku tanpa kabar yang berarti. Tak pernah ada sapa jarak jauh hanya sekedar untuk menanyakan kabarku atau kuliahku. Dan telepon itu hanya untuk mengabarkan bahwa nyawanya sedang terancam. Ya Tuhan.

“Demi Tuhan, Dinda. Saya tidak berbohong. Nyawa saya dalam bahaya. Kamu ingat Tante Anah? Yang entah kapan saya kenalkan ke kamu sebagai calon isteri saya?” ucapnya dengan nada suara seperti tercekat. Dari nada bicaranya, aku tahu betul ia tidak berbohong. Ia sungguh-sungguh dalam keadaan sangat ketakutan. Suaranya bergetar gemetar takut akan datangnya malaikat maut yang tak pernah diinginkannya.

“Apa yang bisa saya bantu untuk membuat Ayah aman?” aku sengaja tidak menanggapi pertanyaannya tentang tante Anah.

“Saya harus pulang ke tempatmu. Besok saya pulang.”

“Besok? Silakan. Tapi saya ada acara launching novel saya di Jakarta. Saya berangkat besok pagi.”

“Demi Tuhan, Dinda. Kamu lebih mementingkan acara bodohmu itu dibandingkan dengan nyawa Ayahmu sendiri?”

“Acara bodoh? Ah, terserah. Saya malas ribut.”

Aku masih ingat bagaimana bergemuruhnya hatiku begitu ayah mengatakan bahwa launching novel perdanaku adalah acara yang bodoh. Airmataku menderas. Ujung kerudung biru mudaku sudah basah. Aku tak sanggup menahan pilu yang menyergap begitu saja saat melihat tubuh di depanku benar-benar tak berdaya.

Saat acara launching sedang berlangsung, ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Pembawa acara mempersilakan aku untuk mengangkat telepon sebentar. Aku menanyakan identitas diri dari si penelepon. Lantas tak mesti menunggu hingga menit ke lima, dadaku seperti ingin meledak. Rasanya seperti ingin meraung di tengah kerumunan manusia yang menghadiri acara launching novel perdanaku.

“Bagaimana bisa!” hanya berupa desisan amarah yang sekuat hati aku tahan agar tak merusak acara yang sangat penting dalam hidupku. Aku menahannya hingga akhirnya susunan acara hingga sesi tanda tangan selesai. Ada beberapa pembaca yang meminta berfoto bersama denganku dan editorku. Aku akhirnya mendekati Kak Fila, editor novelku yang mendampingiku.

“Saya harus ke rumah sakit di Bekasi. Ayah saya... uhm... kecelakaan, Kak.” Aku tak dapat menceritakan yang sebenarnya bahwa yang menelepon adalah polisi yang menangani kasus ayahku.

“Ya Tuhan. Mau saya antar?”

“Tidak usah, Kak. Saya bisa sendiri.”

Kak Fila memelukku dan beberapa rekan yang hadir pun ikut memelukku dan mengatakan banyak sekali kalimat positif. Gigiku masih gemeretak. Aku benar-benar menahan marah. Aku segera keluar dari gedung kemudian mencari ojeg untuk segera ke stasiun dan harus sesegera mungkin sampai di kantor polisi sektor di dekat rumah sakit.

Napasku semakin memburu tak beraturan. Mengingatnya kembali sama saja seperti menikamkan belati tajam ke hatiku berkali-kali. Senggukanku mulai tak terkendali. Aku lihat seseorang mulai tertarik dengan adegan dramatisku. Berdiri mematung dengan tangis yang pecah seolah sedang menangisi seonggok mayat yang kehidupannya telah diambil kembali oleh Tuhan.

“Berkunjung?” tanyanya. Aku menyeka airmataku dengan ujung kerudung biru mudaku yang sudah membasah. Seseorang itu menyodorkan tisue.

“Pakailah. Gratis,” ucapnya sembari meringis. Aku ingin tersenyum. Namun bibirku tak dapat ikut melengkung sempurna membentuk sebuah garis senyuman tulus yang memang berterimakasih karena telah diberikan tisue.

Aku melihat ayahku seperti kesusahan untuk menegakkan tubuhnya. Ia bangun. Ia menjulurkan tangannya untuk meraih gelas. Ia haus. Aku gemetar menahan marah. Ingin sekali berteriak bahwa semua ini karena ulahnya sendiri. Kecerobohannya. Kemunafikannya. Kesalahannya! Tangisku semakin pecah. Aku mundur satu langkah. Bersembunyi di balik tirai yang menghalangi antar ruangan kelas tiga. Entah aku sedang menumpang menangis di ruangan siapa. Aku tak dapat menahan gejolak hatiku sendiri. Tak mampu meredamnya jika masih berada di tempat ini. Seandainya ada ibu. Ah! Ia bahkan sudah lenyap dari rotasi hidupku. Tanpa kabar sama sekali. Bahkan aku tak pernah tahu keberadaannya. Selentingan tetangga mengatakan bahwa kemungkinan besar ibuku pergi ke luar negeri menjadi TKW.  Aku tak peduli lagi.

“Pakailah lagi. Masih gratis!” seseorang itu kembali mengulurkan tisue dan mendekat. Aku meraihnya dengan tangan berguncang. Memang, seluruh tubuhku berguncang karena tangis yang menggila.

“Laki-laki di ujung sana, keluargamu?” seseorang itu tampak bertanya dengan hati-hati. Aku hanya mampu mengangguk. Terbayang kembali kejadian di kantor polisi di mana polisi tersebut dengan menggebu mengulang cerita seluruh kejadian perkara yang menyebabkan ayah berada di rumah sakit ini.

“Ayah Anda mengancam perempuan yang bernama Anah. Dia mengancam untuk menyebarkan foto tak senonoh Anah. Kemudian Anah melaporkan kejadian itu kepada calon suaminya dan calon suaminya adalah preman pribumi. Habislah Ayahmu! Motornya hancur. Ada di depan. Beberapa barang bukti berupa handphone dan dompet ada pada saya. Sebentar, saya ambilkan.”

Melihatnya bangkit, aku memberikan isyarat agar dia tetap duduk. Aku mengatur napasku.

“Anda melepaskan preman itu begitu saja?”

“Kami tidak memiliki alasan untuk menahannya.”

“Dia mengeroyok ayah saya sampai hampir mati, Anda bilang tak memiliki alasan untuk menahannya?” aku benar-benar marah. Polisi dengan perut buncit itu tertawa.

“Ayahmu seperti seorang maling yang dikeroyok massa karena tertangkap basah. Apa saya harus memenjarakan seluruh massa?”

“Tapi sayangnya, Ayah saya bukan maling!!! Anda tidak bekerja dengan maksimal, Pak Polisi. Anda gagal.”

Aku bangkit kemudian berlalu dari kantor berbau busuk itu. Jelas sudah Anah yang membuat ini semua terjadi. Ayah kalap mengancamnya pasti karena ia takut sekali menghadapi kenyataan bahwa Anah tak pernah serius dengannya dan lebih memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain. Janda beranak satu itu ular berbisa. Aku tak memedulikan teriakan polisi yang menyuruhku kembali untuk mengambil barang-barang ayahku. Aku hanya ingin segera melihat keadaan ayah. Namun buktinya, aku membeku di ruangan kosong yang hanya ada seseorang pemberi tisue itu.

“Dia diantarkan polisi ke sini. Kondisinya gawat sekali. Saya melihat dia seperti sedang sekarat menghadapi ajal. Namun syukurlah masa kritisnya akhirnya lewat,” ucap si pemberi tisue.

“Bagaimana kamu tahu?” aku penasaran.

“Saya berada di ruang IGD saat dia dibawa oleh polisi untuk mendapatkan penanganan. Dia dipindahkan ke ruang ICU setelah tak sadarkan diri. Namun akhirnya di pindahkan ke sini. Dan kami berada di ruang yang sama. Meski dipisahkan dua tirai penghalang.”

Aku menyapu ruangan ini dengan pandanganku. Tak ada yang tergolek sakit di sini.

“Siapa yang sakit?” tanyaku.

“Tidak ada,” jawabnya santai.

“Lantas?” aku mulai penasaran. Percakapan ini membuat airmataku perlahan surut. Aku mulai tenang.

“Tidak ada yang sakit karena Ayah saya sudah meninggal. Kakak saya sedang mengurus jenazahnya bersama pihak rumah sakit. Saya bertugas membereskan administrasi dan memilih duduk di sini sebelum pulang. Saya tidak akan pernah melihatnya lagi.” Ada yang retak di hatiku begitu mendengarnya. Mendengar nada pilu di suaranya. Meninggal? Tubuhku mendadak menggigil hebat. Aku mendekap tubuhku sendiri.

“Maaf...” hanya itu yang keluar dari mulutku.

Dia terlihat tersenyum.
“Sudah waktunya saja. Tak apa. Oya, Saya Wira. Kamu?”

“Dinda.”

“Dinda?”

“Dinda Safitri.”

“Tunggu, pantas saya seperti sudah melihat kamu.”
Si pemberi tisue yang mengaku namanya adalah Wira itu merogoh tas ransel merah maroonnya. Dia mengeluarkan sebuah novel berjudul Ranting Yang Patah. Novel perdanaku. Dia membukanya dengan tergesa sampai akhirnya berhenti di bagian profil penulis.

“Dinda Safi yang memiliki nama lengkap Dinda Safitri. Pecinta biru. Penulis muda kelahiran tahun... Heiii... ini kamu.”

“Selamat kamu bertemu dengan penulisnya yang sedang dalam keadaan kacau dengan tubuh menggigil seperti ini,” ucapku membelakanginya. Kembali mencuri pandang kepada Ayah yang matanya sedang menatap kosong ke langit-langit kamar rumah sakit.

“Saya rasa memang kurang beruntung. Kamu tidak akan bisa tanda tangan dengan tubuh menggigil seperti itu. Ah ya... saya harus pamit. Jangan pernah benar-benar menjadi ranting yang patah seperti ceritamu dalam novel ini. Kamu bisa hidup lebih baik dari sekedar patah kemudian terinjak.”
Wira benar-benar pergi. Aku menangis kembali. Menangis sejadi-jadinya. Dia benar. Ini saatnya aku memaafkan seluruh kesalahan ayah. Kembali memulai kehidupan lagi bersamanya. Aku berjalan pelan menuju ruangan ayah. Sesaat mata kami bertumpu. Ia seperti terhenyak. Matanya berair. Aku memeluk tubuhnya yang lemah.

“Maafkan saya, Dinda. Saya bukan ayah yang baik.”

“Saya sudah memaafkan Ayah.”

Karena ranting-ranting yang patah tak dapat kembali berbunga, maka aku sebaiknya menjadikannya api unggun yang menghangatkan dan memberi cahaya kehidupan. Aku tidak akan pernah menjadi ranting yang patah. Tidak akan.


Selasa, 03 November 2015

Lelah

Aku hanya sedang berada di batas lelah. Aku tak banyak berharap pada siapapun untuk dapat menyembuhkan rasa sakit yang berkali-kali aku tempa. Aku juga tak pernah bermimpi sedikitpun untuk berbagi sakitnya dengan orang lain. Cukup aku repih sendiri perihku. Cukup aku rasakan sendiri seluruh pilu. Kemudian membiarkan semuanya menemui takdirnya masing-masing.

Aku pernah tahu akan sebuah rasa sakit yang teramat dalam tentang bagaimana dienyahkan begitu saja dari hidup orang yang sangat aku cintai. Cinta? Entahlah. Semuanya semu. Darinya aku belajar akan bagaimana bertahan dalam luka. Aku jadi tahu bagaimana menyembuhkan diri sendiri. Memperbaiki segalanya dengan sendirinya. Menghadapinya dalam damai.

Rasanya airmata mulai berhenti berderai.

Dulu sekali, aku juga pernah tahu bagaimana rasanya tidak diinginkan. Dibiarkan hidup sendiri. Memiliki tapi tak dimiliki. Memiliki namun tak memiliki. Ah... kau tahu? Saat kau berbisik pada pepohonan tentang apa itu kesunyian, cukup kau lihat saja bagaimana caraku menghela napas, maka kau akan tahu jawabannya.

Aku hanya ibarat gulita yang sekedar berharap mampu bersinar layaknya gemintang. Aku hanya sunyi yang sekedar ingin terlihat ramai agar tak membunuh siapapun dengan gigilnya.

Aku hanya tidak mampu menangis.

Aku hanya tidak pandai tersedu dalam duka.
Andai kau punya sedikit saja waktu untuk sekedar melihat bagaimana hatiku, hidupku, dan diriku, maka kau hanya akan mendapati serpihan. Tanpa makna. Tanpa tahu bagaimana mengembalikan serpihan itu menjadi sebuah lukisan yang utuh.
Kau hanya tidak pernah ingin tahu.


Aku hanya ibarat yang kau genggam. Bukan yang kau tempatkan di dalam hatimu dengan damai.

Jumat, 30 Oktober 2015

Re

RE
Shakilaraya

Aku tak pernah tahu bagaimana rasanya hati yang patah lantas membaik. Yang aku tahu, dia membaik dengan cara yang aneh. Memperbaiki lukanya dengan cara yang gila. Segalanya tak pernah kembali utuh. Hati yang patah hingga puingnya berserakan, tidak akan pernah kembali menjadi hati yang sama. Dia dapat kembali menyatu. Namun, tidak merekat. Itu hanya sebagian kecil dongeng yang diocehkan Re setiap kami memiliki kesempatan untuk saling melempar kata. Saling bercengkrama. Saling melepas rindu yang entah apa namanya masih rindu jika sekedar menatap matanya secara langsung saja aku belum pernah. Aku benar-benar membencinya. Sudah enam bulan terakhir ini, kehidupanku hanya memiliki satu tema. Kasmaran, mungkin. Menyebalkan. Re telah mengacaukan dinding tebal duniaku. Dia dengan sikap tak acuhnya selalu mampu memberikan energi baru pada hidupku yang begitu-begitu saja. Pernah suatu ketika saat aku berhenti mengiriminya pesan, dia meneleponku. Kemudian memporak-porandakan kembali semuanya. Aku teramat lelah dengan perasaan yang mulai tumbuh untuk dirinya. Di batas lelah.

“Ray, ini Re.”
“I know. Nomormu ada di kontak teleponku.”
“Eh, iya ya?”
“Ada apa? Aku sibuk.”
“Kamu tahu kalau nomor teleponmu berhenti mengirimiku pesan sejak tiga hari yang lalu?”
Aku hampir tertawa mendengar pertanyaannya. Namun aku berusaha berbicara dengan nada bicaraku yang seperti biasanya.
“Oya?”
“Nah, tuh kan. Kamu nggak tahu apa-apa soal kelicikan dan konspirasi ini. Aku tahu ada yang nggak beres. Makanya aku telepon. Aku juga heran, Ray. Udah tiga hari ini nggak ada pesan masuk dari nomormu. Aku nggak percaya kalau kamu yang berhenti mengirimiku pesan. Karena kamu tahu betul kalo itu terjadi, duniaku kacau. Aku belum makan dua hari ini. Aku juga nggak bisa melakukan aktifitas apapun. Ini pasti ada ulah pihak ketiga. Semacam kamu udah isi pulsa, tapi orang konternya sengaja bilang kalau jaringannya sedang gangguan. Ini pasti ulah mereka. Aku tahu.”

Selamat datang. Kalian akan benar-benar terganggu membaca kisahnya. Hahaha. Itulah, Re. Tidak akan berhenti bicara. Seolah memang Tuhan menganugerahinya sebuah kehidupan dengan jutaan kata. Aku juga tidak pernah menyangka akan berhenti pada sosoknya yang jauh dari “normal”. Kami benar-benar berada dalam dua kutub yang berbeda. Aku pernah mengira dia memiliki semesta yang sempurna. Keceriaan. Kebahagiaan. Kasih sayang. Karena sosoknya benar-benar memukau. Membuatku tak mampu beranjak meskipun dia sudah mengacaukan duniaku. Aku bahkan harus mengakui kalau justeru aku, senang. Namun ternyata aku salah. Semestanya tak pernah sesempurna yang aku kira. Hidupnya tak pernah semudah yang aku bayangkan. Tapi dia, memang diciptakan Tuhan bukan untuk menjadi perempuan yang biasa-biasa saja. Dia tangguh dan dia bertahan. Bahkan tak ada jejak pedih sama sekali yang aku temukan. Kini, dia justeru menjadi kesempurnaan bagi banyak orang. Termasuk aku. Tuhan memang tidak menakdirkan kehidupan sempurna untuk dirinya. Tapi melalui dirinya, Tuhan menganugerahi kesempurnaan hidup untuk banyak orang.

Dua hari yang lalu, dapat dikatakan menjadi hari terindah sepanjang hidupku. Re datang. Ya, dia benar-benar datang. Hmm, aku harus mulai dari mana? Entahlah. Rasanya satu buku tebal pun tak akan pernah cukup jika aku pakai untuk menjelaskan tentang dirinya. Oke, aku akan memulai dari percakapaan terakhir kami sekitar satu minggu yang lalu sebelum kemarin lusa dia berada di sini. Saat itu Re merengek untuk datang ke tempatku. Aku sungguh tidak setuju dengan ide gilanya.

“Ayolah, Ray. Sehari saja. Atau seminggu.”
“Kamu mau tinggal di mana kalau ke sini? Di penginapan? Atau di mana? Kamu nggak punya sodara di sini, Re.”
“Nggak perlu penginapan. Aku kan punya kamu.”
“Di kontrakanku?”
“Humh, boleh kalo kamu maksa.”
“No, Re. Ini gila.”
“Ayolaaaah. Aku udah pesan tiket kereta. Minggu depan jam empat sore aku sampai stasiun. Kalau kamu nggak jemput dalam dua jam, aku balik lagi.”

Re memutuskan pembicaraan. Bahkan setelah hari itu, dia tidak pernah mengirimiku pesan atau sekedar membalas pesanku. Sial. Dia memang keras kepala. Begitulah, Re. Justeru akan aneh jika dia tiba-tiba melunak dan menyerah akan sesuatu. Dunia serasa mendadak gelap dan cahaya matahari memudar.
Sore saat kedatangan Re, aku benar-benar berantakan. Aku tak tahu harus bagaimana. Meskipun sudah seringkali mendapati salah satu foto manisnya di akun sosial media pribadinya, namun bertemu dengannya? Itu tetap saja membuat debar tidak karuan. Terlebih satu baris pesan masuk dari nomornya membuatku tidak lagi memiliki pilihan.

“Aku bentar lagi sampai, Ray. See you there.”

Akhirnya aku membiarkan saja hatiku yang berbicara. Tak ada yang harus aku khawatirkan. Re sudah sejauh ini. Menempuh perjalanan yang jaraknya ratusan kilometer dari rumahnya hanya demi aku. Tak mungkin aku membiarkan dirinya kembali pulang dengan penuh kekecewaan. Tak mungkin.
Dan di sanalah dia. Tergopoh-gopoh mengangkat tas ranselnya yang sepertinya sangat berat. Dia menggendong tas ranselnya. Dan memilih untuk duduk kembali demi membenarkan tali sepatunya. Dia belum melihatku yang sudah menunggunya di pintu kedatangan. Dia masih sibuk dengan sepatu dan rambutnya. Entah apa yang harus aku katakan. Dia benar-benar, indah. Dari kejauhan pun aku sudah dapat melihat bening matanya. Dan akhirnya, keajaiban itu ada. Mata kami bertemu. Demi Tuhan. Itu adalah hal yang tidak akan pernah dapat aku lupakan. Dia terlihat memekik dan menubruk tubuhku. Aku meraihnya dan memeluknya erat. Berharap sedikit mengurangi lelahnya karena telah menempuh perjalanan panjang.

“Ray... kirain nggak bakal dateng.” Dia melepaskan diri dari pelukanku. Tersenyum. Aku langsung menarik tas ranselnya.
“Biar aku yang bawa.”
“Dih, nggak mau. Nanti kamu bawa kabur barang-barang aku,” ucapnya dengan penuh tatapan curiga seolah aku benar-benar tertarik akan barang-barangnya.
“Sekarang, satu-satunya hal yang pengen banget aku bawa kabur ya kamu, Re. Bukan barang-barangmu,” ucapku menggandeng jemarinya untuk menyebrang. Tak terdengar lagi suara Re. Dia terdiam.

Sore itu, merupakan hari paling ramai di hidupku. Bukan hanya ramai oleh suara Re yang tidak pernah berhenti bicara, pun ramai oleh kegaduhan yang muncul dari hatiku. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku tak tahu itu apa sampai malam harinya, aku tahu jawabannya. Aku mencintai Re.

 Aku sedang merapikan tempat tidur untuknya. Kemudian mendengar dia berbicara di telepon dengan seseorang. Hmmm, meskipun aku tahu dia sedang berbicara dengan siapa, aku hanya malas menyebut nama laki-laki itu. Tiba-tiba suara Re lenyap. Aku langsung berhenti merapikan kamar dan keluar untuk melihat keadaannya. Dan apa yang aku lihat, adalah hal yang menyakitkan. Aku melihat Re terduduk di karpet depan televisi. Cahaya matanya meredup. Hela nafasnya terasa berat. Dan ya Tuhan... buliran bening itu ada di sudut matanya. Tiba-tiba hatiku merasakan sakit yang entah. Sakit yang tanpa tahu jelas apa yang benar-benar menyakitkan. Melihat Re terduduk dalam sedihnya. Atau mendapati aku berdiri dalam ketidakberdayaanku.

“Re...”
Re terlihat tenang menengok kemudian tersenyum. Dia jelas sedang berbohong. Senyumnya tidak lagi mendamaikan.
“Udah beres kamarnya?”
“Uhm... mungkin.”
“Sinilah duduk, Ray. Santai aja. Aku bisa beresin sendiri kalau nanti udah mau tidur. Kita ngobrol.” Begitu mengatakan hal itu, aku merasakan binar matanya kembali. Aku melangkah ragu. Kemudian duduk di sampingnya. Tak benar-benar menonton. Karena Re jauh lebih penting dibandingkan dengan acara televisi yang sedang berlangsung. Aku mencoba menguasai diri.
“Kamu tahu, Ray? Apa yang sebenarnya paling menyedihkan dari sekedar bertahan atas luka?” tiba-tiba Re bersuara dan melemparkan sebuah pertanyaan yang aku sendiri tidak yakin atas jawabannya.
“Apa? Luka itu sendiri?” jawabku asal. Re menggeleng.
“Saat justeru kita tidak memiliki pilihan selain dari bertahan.”
Aku menghela napas panjang.
“Tidak ada yang lebih buruk selain dari dibunuhnya jiwamu perlahan. Rasanya seperti lebih menyakitkan dari sebuah kematian,” ucap Re melanjutkan kata-katanya melihatku hanya terdiam. Aku tak tahu harus bagaimana. Aku meraih tubuhnya dan memeluknya dengan erat. Tak mengatakan apapun. Hanya hening. Aku berharap Re dapat mengetahui apa yang ingin aku sampaikan tanpa aku harus mengatakannya. Re terdiam. Dia tidak bersuara sama sekali. Namun rasanya bahuku mulai hangat. Dia menangis tanpa suara. Dia menangis dalam hening. Dia menangis dalam keputus asaan. Kini aku tahu mengapa dia memaksa untuk datang ke tempatku. Karena bersamaku, dia merasa jiwanya dipaksa untuk kembali hidup. Ah, Re. Dia tak seharusnya mengalami ini semua.

Sejak saat itu, aku tahu kalau aku mencintainya. Mencintai perempuan yang tak lagi sendiri. Re... aku hanya tak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku hanya ingin melihat dia bahagia. Sesederhana ingin yang tak harus sungguh-sungguh menjadi nyata. Jika hanya dengan adanya aku untuknya sudah cukup. Maka aku tak akan pernah menghilang selamanya. Selamanya.

Minggu, 12 Juli 2015

Review Novel Everybody's Man Kak Arie Fajar Rofian

Setelah hampir berbulan-bulan tersesat di antah berantah yang mendapatkan signal kencang itu hanyalah sebuah impian, akhirnya hari ini saya bisa online dengan numpang wifi gretongan di sekolah adik saya. Meski udah kelar dari entah kapan membaca novel terbaru Kak Arie, rasa nyesek bacanya masih kerasa. Apalagi kalau ingat Ryan, si tokoh utamanya itu... Hahaha
Inilah reviewnya. Disimak ya, soalnya pasti kalian akan nyesel kalau sampai nggak kebagian novel itu di toko buku.

Novel terbaru Kak Arie ini, cara berceritanya nggak terlalu jauh berbeda dengan novel pertamanya "Berikutnya Kau yang Mati". Banyak sekali teka-teki yang membuat kita sebagai pembaca sulit sekali berhenti membaca meski sekedar untuk ke kamar mandi. #inijujur
Saya banyak sekali membaca novel romance. Tapi membaca novel romance yang memiliki gaya khas bercerita yang unik, ya cuma punya Kak Arie ini recomended.
Berikut keterangan dari novel terbitan Elexmedia Komputindo;


Spesifikasi Buku;
Penulis: Arie Fajar Rofian
Judul: Everybody's Man
 ID: 188150825
ISBN: 9786020263618
Format Cover: Soft Cover
Editor: Pradita Seti Rahayu
Kategorisasi: FIKSI > EMK-NOVEL LOKAL > EMK-FICTION & LITERATURE
Ukuran: 12.5 X 19.5
Harga: Rp. 39,800
Est. Terbit: 29-Apr-2015
Tebal: 204 Hlm
Pengguna: Dewasa,Mahasiswa
SPT Design Cover: Hadi

R-I-A-N. Empat huruf, satu raga. Lima cerita, satu jiwa... Perempuan punya cara masing-masing dalam bercerita tentang cinta. Manis, getir, harap, juga bencana. Mana yang benar-benar Rian cinta?

Bercerita tentang sudut pandang dari beberapa perempuan atas diri Rian. Penampakan dari cowok cool yang sangat digandrungi di seantero kampus. Awalnya, saya kira ceritanya akan sama dengan cerita-cerita romance anak kuliahan pada umumnya. Cowok keren. Suka sama cewek yang biasa. Ah, pokoknya khas romance. Tapi ternyata, di luar dugaan saya, ceritanya justeru merangkum banyak sekali sudut pandang. Bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang kehidupan yang benar-benar terjadi dan ada di sekeliling kita.

Kak Arie mampu mengontrol emosi pembaca dengan menyelipkan beberapa candaan ringan dan tokoh yang jarang ada, semacam Prio (sahabat Rian yang tidak jelas kadar kewarasannya).

Membaca novel ini, sama seperti kamu sedang duduk santai sembari nikmatin teh hangat. Dan di sebelahmu seperti ada beberapa perempuan yang sedang bercerita tentang satu nama. Rian.

Ah. Lagi-lagi Riaaaaaaannnnn. :')

Catatan kecilnya,
Ada beberapa bagian cerita yang sedikit membingungkan. Tapi jika dihayati dan diresapi. Voila! Cerita utuh dalam satu novel itu benar-benar sukses membuat nyesek seharian. Hehehe.

Jadi? Siapa Rian?
Bagaimana Rian?
Bagaimana pula akhir dari kisah mereka?
Beliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii... sebelum sold out dari Toko Buku. :*

Kamis, 26 Maret 2015

Review Novel Horor "Berikutnya Kau yang Mati" Karya Kak Arie F. Rofian

Judul: Berikutnya Kau yang Mati

Penulis: Arie F. Rofian

Penyunting: Dyah Utami

Penyelaras Akhir: Sasa

Perancang dan Ilustrasi Sampul: Fahmi Fauzi

Penata Letak: Theresa Greacella

Penerbit: Moka Media

Blurb

Ini adalah kisah enam anak manusia, terpisah ruang dan jarak. Mereka semua tak saling mengenal. Mereka semua tak mengerti. Namun, tanpa pernah mereka sadari, mereka telah terjebak dalam lingkaran takdir kematian. tanpa bisa mereka tolak, kematian mengetuk pintu rumah mereka. Satu persatu, Dan sekarang, mereka harus menghadapi hal yang lebih menyakitkan dari kematian.


***
"Gelap dan hening. Terlampau hening, bahkan. Jantungku mendadak berdegup lebih keras. Tanganku meraba-raba, mencari pegangan untuk kemudian melangkah. Tak ada apa-apa, kecuali permukaan dinding yang memantulkan hawa dingin. Jari-jariku lantas menelusuri permukaan dinding secara perlahan. penelusuran itu baru berakhir ketika jariku mendapati gumpalan cairan yang kental membasahi dinding. Aku mengendus, mencium bau anyir dari jariku yang baru saja menyentuh dinding.

Darah!"

Sebenarnya sih pengen ngereview ucapan terimakasih sama profil penulisnya, tapi ternyata si Penulis mampu menebak akal busuk saya. Sehingga saya langsung dicekal dan diancam kalau sampai terjadi, maka dia bakal memborong stock cokelat di pasaran. Dan saya bakal nelangsa kehabisan cokelat. :D
Jujur, ini novel horor kedua yang saya baca. Sampai saya bacanya merem melek. Jungkir balik. Disela makan cakue dulu. Disela makan bakso malang dulu (Oke, itu sih saya yang rakus) :D
Ide ceritanya keren. Menarik. Karena bagaimana mungkin ada enam anak manusia yang tidak saling mengenal dapat dikaitkan dalam satu alur novel. Meski mungkin juga ada yang pernah memiliki ide tersebut, sama halnya Kolase Perempuan Fiksi dulu, tapi cuma lima anak manusia. Nggak bisa bikin sampe enam. Nggak kuat. Baru nulisnya aja udah melambai ke kamera.

Di bab pertama yang diberi judul Jembatan Gantung, yang dipikiran saya pasti tentang kejadian yang mana di jembatan nanti terjadi kematian. Memang benar, tapi bukan itu ternyata inti ceritanya. Si Penulis dengan seenaknya sendiri melempar-lempar pembaca ke berbagai macam kejadian yang dibalut dalam diksi rapi. Membuat nafas pembaca naik turun dan menebak-nebak apalagi yang akan terjadi ke depannya.  Itu keren, Jon. :') (jujur pake banget).

Di bab selanjutnya juga sama. Alurnya tidak dapat ditebak. Banyak sekali nilai plus yang saya dapat dari novel horor ini.

1. Ide ceritanya tidak hanya tentang takdir enam anak manusia yang tidak saling mengenal tapi mengalami keterkaitan takdir yang sama. Yaitu kematian.. Lebih dari itu. Penulis dengan apiknya menyisipkan tokoh di bab pertama ada di bab ke dua. Tokoh di bab kedua ada di bab pertama. Dan seterusnya... Saya yang membacanya juga sampai keheranan. Damn! Keren nih orang nulisnya!!! (baca; pake ekspresi squidward).
2. Alurnya tidak dapat ditebak.
3. Membuat pembaca tidak sabar ingin segera menamatkan bacaannya dan mengetahui bagaimana ending-nya.
4. Ketegangan yang diusahakan oleh penulis dalam narasinya, berhasil. Saya sampai panas dingin membacanya.
5. Tidak hanya tentang kematian. Tapi novel ini juga berisi unsur psikologis yang mengharuskan salah satu tokoh berkonsultasi ke seorang psikiater. Benar-benar  membuat saya lupa bahwa Penulis novel ini lulusan manajemen. =D
6.  (....)

Nah... kelebihan yang ke enam dan selanjutnya, giliran kalian yang menambahkan. :D
So, Guys... langsung aja ke toko buku kesayangan kalian buat hunting novel horor yang penulisnya nggak horor ini. Semoga kalian menjadi yang berikutnya. :)

Kamis, 19 Maret 2015

Idealisme? Lupakan!

Idealisme? Lupakan!

Hahaha
Nggak tau kenapa pengen bikin note tentang ini. Lebih masuk kategori note curhat sih yaaa. *telenember. :D
Ah! Bahas tentang perkuliahan, memang nggak pernah ada habisnya. Gue kira… masa SMA aja yang paling indah. Ternyata memang iya. #eh? xD
Kemana perginya bayangan kuliah itu indah? #plak

Semester kali ini, banyak hal aneh yang nggak sesuai dengan idealisme gue. Banyak juga materi perkuliahan yang menurut gue bisa lebih berbobot malah berantakan. Bahkan materinya bisa kita pelajarin sambil tiduran di kamar. Huft!
Tapi itulah cobaan menuntut ilmu. Kita harus patuh kepada guru, bukan? Dan dalam hal ini, dosen adalah segalanya.

Yang gue tau, sekarang udah nggak musim kalo yang jadi central itu cuma guru. Bahkan peserta didik bisa mengeksplorasi kemampuannya sendiri, terlebih mahasiswa. Tapi nggak banyak juga masih ada dosen yang menganggap dirinya central dan kita nggak boleh berargumen sama sekali. Ck! #gerogotinmouse.
Pas semester tiga sama semester empat, begitu ada dosen yang kayak gitu, gue langsung mogok berangkat dan lebih memilih ikut kegiatan yang lain. Diskusi, seminar atau apapun yang nggak bikin otak gue tumpul. Bahkan nggak jarang gue berangkat kuliah tapi nggak masuk ke kelas. Dan begitu kelas bubar. Temen sekelas gue ngeliat tampang gue dengan kaget “Teteh! Kok nggak masuk?”. Hemmh… dan tau apa yang gue dapet? Nilai yang sangat memuaskan. Yaitu “E”.

Walaupun gue berani buat disuruh ujian sendirian dan gue isi tuh lembar jawab sampe penuh. Tapi tetep! Gue “E”. Apa gue kecewa? Nggak! Nggak sama sekali! Ada kepuasan tersendiri yang gue pun nggak paham maksudnya. Bukan ngerasa sok keren. Sumpah! Tanpa merasa sok keren pun, gue emang udah keren. *plok :D

Tapi kawan… ada yang gue lupa. Ada yang gue sakitin di sini. Siapa? Jelaslah orang tua gue. #eaaaaaaaaaa. :’)

Gue harusnya nggak hanya menyenangkan bathin gue sendiri aja. Dengan nggak mengikuti perkuliahan yang nggak sesuai dengan diri gue. Tapi inget! Inget! Mereka yang selalu doain keberhasilan gue *yang ini cuma nebak-nebak. Nggak tau dah doain apa nggak* :D

Intinya, semester ini gue kalah. Lupain dosen yang seharusnya membimbing kita untuk membuat RPP, tapi malah dosen itu nggak membimbing kita sama sekali. Bahkan beliau sendiri bukan guru. *gimana bisa bikin RPP kalau beliaunya bukan guru. Rrrrrrrrrr…* lupain! Nggak peduli seberapa nggak sinkronnya hal itu. Yang penting gue kuliah! Yang penting gue dapet absen!
Lupain dosen yang hobinya cuma marah kalau yang kita kerjain nggak sesuai apa yang dia harapkan. *gimana bisa ngerjain tugas dengan bener. Instruksi dari beliaunya aja muter-muter Surabaya dulu. Padahal cuma mau ke Jakarta* lupain! Yang penting gue udah nyoba ngerjain dan gue dapet tanda kehadiran!
Lupain dosen yang seenak perutnya sendiri. Mindah-mindah jadual sampe nggak dapet kelas. Sampe kita belajar dan diskusi di taman *gimana mau kondusif* Huffft! Yang penting gue aktif diskusi walopun suara gue sampe abis. xD
Lupain dosen yang marah-marah kalau kita terlambat. Padahal beliau kalo terlambat bisa sampe berjam-jam dan itu terjadi setiap minggu. Dan dengan alasan yang sama. Lupain! Yang penting jam 8 pas. Gue udah duduk manis di kelas. LUPAIN IDEALISME KONYOL LU, KILAN. Mau jadi apa kalau tiap semester selalu dapet nilai E gara-gara masalah terus sama dosen? :’D
#tobaaaaat dah. #plok.








Tapi Rabu ini, gue bener-bener meliburkan diri! :D
Beautiful day. :*

Aku Benci Perayu Ulung

Hai, Perayu
Sajaksajak cinta yang kau persembahkan ternyata hanya bak kepulan asap yang menggumpal kemudian mengurai ke bentangan langit
Menggebu sesaat lalu melebur

Hai, Perayu
Baitbait rindu yang kau kelakarkan ternyata hanya bak ganja yang kau sumpalkan
melayang namun mematikan

Hai, Perayu Ulung di sudut hatiku
Paragrafparagraf indah yang kau susun untukku ternyata hanya bak rayuan maut yang mematikan
Indah namun hantarkan lara yang tiada tara
Bayangmu akan ku kubur dalam sunyi
Kebohonganmu akan ku sematkan dalam hati
Penghianatanmu akan ku patri dalam altar jiwaku

Kau bunuh aku dam ilusi cintamu
Kau bunuh aku dalam semu rindumu
Bunuh saja aku
Remukkan saja hatiku
Injak saja kepingannya menjadi puing
Bunuh !

Selasa, 17 Maret 2015

Curhat Calon Si Guru Agama #latepost

Sebenernya catatan ini nggak penting-penting banget. Makanya, bagi yang males baca karena tulisan ini kepanjangan, boleh ditinggalkan.

Saya adalah mahasiswi Pendidikan Agama semester lima. Pada semester ini, terdapat mata kuliah tentang Kode Etik Keguruan. Banyak hal yang kita bahas dan pelajari tentang konsep keguruan. Dari mulai profil seorang guru, profesionalismenya hingga kompetensi pengembangan diri guru tersebut. Banyak hal yang kita perdebatkan pula. Secara teori, guru itu harus seperti ini, seperti itu, bisa ini, bisa itu, mengerti ini, mengerti itu. Bahkan jika dikaji secara mendalam, seolah-olah guru adalah sosok manusia sempurna yang mana tugasnya memang hanya membimbing, mendidik, mengarahkan, dan me-me-me selanjutnya. Tidak boleh ada celah sedikitpun untuk seorang guru melakukan kesalahan bahkan kekhilafan. Ah! Itu hanya sebatas teori, bukan?

Bukan berarti saya menyepelekan teori tersebut. Okelah… jadi gini…

Minggu ini merupakan pertemuan ke enam. Membahas tentang kompetensi pengembangan guru. Ada pertanyaan yang kurang lebih seperti ini:

“Mengapa masih ada PNS yang sering keluar pada saat jam pelajaran berlangsung. Malah ditemukan di mall, di pasar, atau di manapun yang pasti tidak di dalam kelas. Nah, bagaimana solusinya menurut kelompok anda?!”

Sepertinya menarik.
So what?
Awalnya saya tidak tertarik untuk menjawab. Tapi setelah si penanya dan si pemakalah berdebat panjang, saya mulai tertarik untuk menyudahi perdebatan aneh itu.

“Menurut saya… kita semua sudah tau jawabannya. Terutama Anda yang bertanya.”

Hanya itu? Ya, jawabannya hanya sesimple itu. Saya malas memperumit hal yang sebenarnya tidak rumit sama sekali. Wajar sekali jika si penanya akhirnya emosi mendengar jawaban saya. Mungkin dia merasa saya menyepelekan pertanyaannya. Dia kembali menanggapi jawaban saya.

“Saya tidak terima jika saya dikatakan sudah mengetahui jawabannya. Kita itu kaum intelektual. Yang mana harus mulai memecahkan permasalahan-permasalahan yang mengakar seperti ini.”

Fffhhh… mau tidak mau. Saya harus bicara panjang lebar.

“Di sini, di kelas ini… kita semua adalah calon guru. Kini kita sedang mengkaji teori-teori keguruan yang teramat hebat. Dari mulai mendalami tentang profil seorang guru. Terus cara untuk menjadi guru yang professional dan minggu ini kita mengkaji tentang kompetensi seorang guru yang mana guru harus memiliki kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan… lain-lain. Pertanyaan kali ini tidak jauh beda dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari minggu ke minggu. Sebagai kaum intelektual, bagaimana bisa kita hanya membahas satu hal saja harus berminggu-minggu. Apakah tidak ada pemahaman di setiap minggunya? Padahal mata kuliah ini pun menghabiskan tiga SKS dalam satu kali pertemuan.

Guru yang seharusnya menjadi pendidik dan tidak hanya memerhatikan perkembangan peserta didiknya hanya dari segi kognitif saja, sedangkan guru juga berperan penting dalam pembentukan nilai-nilai afektif dalam diri peserta didik. Guru juga harus menguasai metode-metode agar peserta didik tumbuh menjadi manusia yang kreatif dan inovatif. Guru harus bisa menjadi teladan bagi peserta didiknya. Guru juga harus professional dengan memiliki pencapaian akademik, cerdas dan piawai dalam menyampaikan materi. Guru dituntut bahkan dibentuk agar memiliki kepribadian yang baik dan berkualitas. Harus dewasa, arif, berwibawa. Dan… lain-lain. Gosh! Betapa sempurnanya hidup Anda saat Anda menjadi guru. :D

Hanya aja, sering timbul pertanyaan, mengapa pada kenyataannya tidak semua guru seperti yang ada di teori? Dari mulai PNS yang bolos, guru yang tidak professional, guru yang kurang mampu menyampaikan materi bahkan sampai guru yang tidak dihargai oleh peserta didiknya sama sekali. Lantas apa? Bagaimana? Kita harus salto sambil teriak WEW gitu? :D #mulaialay

Ah, Kawaaan…
MARI MENJADI GURU YANG BERKUALITAS UNTUK MASA YANG AKAN DATANG. MARI MENJADI TAULADAN YANG LAYAK BAGI PESERTA DIDIK KITA. AGAR KITA SEDIKIT BANYAKNYA DAPAT BERKONTRIBUSI UNTUK MEMAJUKAN PENDIDIKAN BANGSA.

Permasalahan-permasalahan guru yang sekarang, sudah terlalu banyak solusi yang dikaji namun belum terealisasi dengan baik. Solusi-solusi itu seperti obat kutu air yang nyatanya sulit menyembuhkan hingga ke akarnya meski janji-janji manisnya dapat membasmi hingga ke akar. Padahal sudah ada banyak program yang pemerintah lakukan untuk menyejahterakan guru. “Agar tidak ada guru yang demo dan mogok mengajar karena gajinya kurang layak”.

Pada akhirnya… semua kembali kepada diri kita masing-masing. Jadikan mereka contoh nyata YANG TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN SEBAGIAN DARI KITA MUNGKIN AKAN ADA YANG MENJADI SEPERTI MEREKA KELAK. #nyebursumur
Hahahaha
Tadi nggak sempet ngoceh di kelas. Takut kebablasan sampe subuh. :D

Udah dulu ah! Kalo kecapean mikir, nanti saya cepat tua dan kecantikan saya cepat memudar. =p