Minggu, 26 Agustus 2018

KENAPA NGGAK NGAJAR AJA?

KENAPA NGGAK NGAJAR AJA?


Kenapa nggak ngajar aja?
Pertanyaan kayak gitu sering banget gue denger. Karena ya memang basic pendidikan gue adalah guru tapi gue selalu kerja yang nggak sesuai dengan bidang gue. Tapi pertanyaan gue selanjutnya untuk yang nanya, ya... siapa yang nggak mau? Siapa yang nggak mau kerja sesuai dengan basic pendidikan serta passion yang kita miliki? Mau banget. Tapi mungkin perspektif kita yang berbeda. Bagi gue, ngajar adalah kehidupan. Berbagi ilmu memiliki keseruan tersendiri. Dari gue pertama kali dapet pertanyaan apa citacita gue, gue jawab guru. Pas SMA sampe kuliah dapet amanat untuk ngajar adikadik di pesantren, ya gue menikmati masamasa itu. Masamasa belajar lagi untuk kemudian bisa ngajar. Masamasa gue pelajari lagi materimateri yang akan gue ajarkan. Dan bagi gue, ngajar bukan hanya bisa dilakukan di sekolah formal aja. Gue bisa ngajar di manapun. Dan hal itu, bikin gue bahagia.

Salah satu sahabat gue sebut aja Nimas Aksan, memang nama sebenarnya. Dia pernah bilang kalau gue keliatan "bersinar" pas ngajar. Gue tau dia lebay karena gue bukan lampu LED yang bisa bersinar. Tapi gue paham maksud katakata dia. Mungkin maksud dia, lebih hidup. Lebih bahagia. Karena katakata itu dia lemparkan setelah gue bertauntaun off ngajar. Jadi sebenarnya, siapa yang nggak mau?

Gue mau.

Gue juga seneng liat tementemen gue baik temen semasa kuliah atupun temen yang jadi rekan gue saat ngajar. Kebanyakan dari mereka menjadi guru. Guruguru hebat. Lagi, di sini... perspektif kita saja yang berbeda. Bagi gue, andai bisa... gue nggak mau menjadikan "mengajar" sebagai pekerjaan gue. Pekerjaan yang artinya gue dapet uang dari hasil gue ngajar. Gue seharusnya melakukan pekerjaan lain agar bisa mengajar. Walopun nggak memungkiri kalau gue ya masih dibayar untuk tenaga gue mengajar. Baik ngajar di sekolah ataupun privat. Dan itupun nggak salah. Uang itu hanya sekadar penghargaan untuk para guru yang mau membagi ilmunya. Mendidik anakanak untuk tumbuh menjadi manusia yang memiliki ilmu yang kemudian dapat mereka gunakan.

Intinya adalah, gue bahagia saat gue ngajar. Di mana yang gue lakuin ya... ngajar. Membagi ilmu gue untuk yang sangat membutuhkan uluran tangan. Membantu mereka yang kesusahan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Tanpa mesti memikirkan juga halhal administratif yang seringkali bikin gue kehilangan fokus. Gue pernah ngajar di sekolah formal sekaligus membuka pintu rumah gue lebarlebar bagi siapapun yang mau datang untuk sekadar membaca. Belajar. Atau mengerjakan PR. Dan rasanya, beda banget. Ketika gue lebih banyak mengeluarkan tenaga untuk mengurus halhal administratif di sekolah formal dan kehilangan banyak tenaga yang harusnya bisa gue gunain buat fun bareng anakanak didik gue, di rumah justeru gue melupakan semua halhal rumit dan lebih fokus membantu mereka belajar.

Samasama mengajar. Kita hanya beda perspektif.

Oleh karena itu,
Gue selalu bilang sama sahabat gue yang lain, sebut aja Dyani, bukan nama samaran. Kalau gue harus kaya raya. Gue harus bekerja lebih keras dan sangat keras. Agar gue bisa terus mengajar tanpa khawatir akan kesulitan secara finansial.
Karena katanya,
Kita harus kuat terlebih dahulu agar dapat membantu orang lain. Dan kita harus bahagia agar dapat membahagiakan orang lain. ♡♡♡

Insya Allah,
Kelak gue bisa membuka pintu rumah lebih lebar untuk anakanak yang masih kesusahan dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.

Jadi?
Siapa yang nggak mau?

Jumat, 10 Agustus 2018

TANDER-TANDER

TANDER-TANDER
Oleh Euis Shakilaraya

Aku menyilangkan kedua tangan dan menatap perempuan di hadapanku dengan tatapan sedatar-datarnya. Rasanya aneh melihat tangan kakunya mencoba memainkan gasing. Dan gayanya? Sumpah demi apapun, seperti melihat dia sedang menjadi instruktur gasing di kejuaraan nasional. Dia melemparkan gasingnya dan tidak berputar sama sekali. Benarbenar melempar seolah melihat papan gasingnya sebagai maling yang berusaha kabur, dia melemparnya asal. Tiba-tiba matanya menatapku tajam. Aku menatap ke sekeliling. Berharap yang ditatapnya bukanlah aku.

"Bantuin dong!!!" Teriaknya.

Aku sedang berada di aula besar kementrian pendidikan dan kebudayaan. Di dalamnya ada ratusan orang yang datang ke festival untuk melihat-lihat dan bernostalgia dengan permainan-permainan tradisional Indonesia. Aku kembali melihat perempuan di hadapanku dan bahkan tahu bahwa dia sedang berteriak meski aku tak dapat mendengar suaranya. Aku menunjuk diriku sendiri seolah bertanya padanya "Kamu lagi ngomong sama saya?"

"Kamu! Iyak, kamu! Bantuin dong."

Melihatnya kesulitan menjadi instruktur permainan yang tidak dia kuasai sama sekali, membuatku akhirnya memutuskan untuk membantunya. Aku menghampirinya dan mengambil alih upayanya menjadi instruktur permainan gasing. Aku dikelilingi banyak anak-anak dan orang tua mereka. Tanganku gesit melilit gasingnya dengan tali dan kemudian melemparkannya dengan sangat sempurna. Berputar sempurna di atas papan permainan. Semuanya bersorak kecuali perempuan yang berteriak meminta bantuanku. Dia tidak berteriak sama sekali, tapi matanya menatapku takjub. Dia seakan melihat permainan gasing ini sebagai permainan hidup dan mati dalam misi menyelamatkan sebuah negara.

"Kok bisa kok bisa kok bisa?" Dia akhirnya berekspresi kegirangan.
"Kereeen ih. Aku nggak pernah bisa main gasing. Ajarin ajarin ajarin."

Aku kembali menatapnya. Perempuan aneh.

"Gini caranya..."
Aku mencontohkan kepadanya. Dia menatap antusias. Kemudian aku menyerahkan gasing kepadanya.

"Nih, coba lempar."
"Gimana caranya?"
"Lempar aja pelan."

Aku melihatnya ragu-ragu melempar. Tapi dia benar-benar mengikuti instruksiku dan gasingnya berputar sebentar.

"Yeaaaaaayyyyy!!! Muter!!! Cool. Akhirnya bisa."
Ramainya aula kementrian rasanya dikalahkan oleh euforia dia dalam menikmati keberhasilannya bermain gasing.

***

Aku berada di salah satu komunitas yang berfokus pada pelestarian permainan tradisional Indonesia. Karena semakin majunya kecanggihan teknologi, membuat anak-anak penerus bangsa cenderung lebih senang memainkan gadget dan tontonan-tontonan yang mempengaruhi perkembangan pengetahuannya lewat youtube, pelestarian permainan tradisional pun dirasakan semakin penting. Selain untuk kembali mengajak anak-anak untuk bermain di luar dan mengasah sistem motoriknya, juga untuk melestarikan salah satu kebudayaan bangsa.
Keren banget ya narasinya. Intinya, begitu. Dan hari ini sedang ada festival permainan tradisional dari komunitas lain yang menjadikan komunitasku sebagai komunitas undangan. Dan perempuan aneh di area permainan gasing tadi, sudah menghilang. Dari kaos yang dia kenakan, dia terlihat seperti volunteer atau panitia acara. Entahlah.

"Mau main tander-tander nggak?"

Perempuan itu tiba-tiba ada di belakangku. Aku membalik badan dan hanya menatapnya. Dia kembali berlari ke arena permainan membawa sebilah bambu untuk memainkan tandertander. Permainan sederhana di mana yang memainkannya harus melingkar dan salah satunya harus dikenai tutup sabun colek atau tutup apapun yang dapat di taruh di atas bilah bambu para pemainnya. Permainan itu berasal dari sulawesi selatan. Tanah kelahiranku. Aku tercengang melihat mereka memainkan tandertander. Sepertinya, apapun yang dilakukan perempuan itu, semuanya salah. Dia tidak menguasai permainan apapun.

"Emang begitu cara mainnya?" Tanyaku
"Nggak tau. Asal main aja. Kenapa?"
"Ya setau saya sih nggak begitu mainnya."
"Ya kasih tau. Aku kan cuma baca di buku panduan."
Hah?
"Kalian melingkar, pegang bambu masing-masing. Taruh tutup sabunnya di atas bambu. Lempar ke atas sampe kena ke salah satu teman kalian di dalam lingkaran tadi. Kalau udah kena, yang kena jadi pelempar. Kalian harus berusaha buat ga kena lemparan tutup sabunnya. Begitu."
"Ayo main. Ayo ayo ayo."

Cahaya matanya kembali. Apa dia tidak kelelahan? Aku mengambil sebilah bambu dan mengikuti permainan. Aku melihatnya lincah mengejar ke sana ke mari. Menghindar. Menikmati permainannya. Seolah kalau menang, akan langsung dijadikan duta pelestarian permainan tradisional.
Selesai bermain, dia duduk di sampingku dan meluruskan kakinya.

"Seru ya?" Tanyanya. Aku hanya mengangguk.

"Kamu kok tau cara main tander-tander?"
"Saya asli sulawesi."
"Waaah. Pantesan."
"Tadi pas main gasing, benerbener degdegan. Ga bisa mainnya. Tapi di arena gasing ga ada instruktur satu pun. Padahal aku belajarnya permainan tandertander. Malah harus pegang gasing. Untung liat ada kamu. Kamu dari komunitas undangan kan? Makasih udah ngajarin gasing sama tandertander."
"Kamu volunteer?"
"Iyak. Keliatan banget ya?"
"Nggak sih. Saya nanya aja."

"Oya, Ajeng." Ucapnya seperti memperkenalkan diri. Aku bangkit dan berniat untuk melihat arena permainan gasing. Dia ikut bangun dari duduknya dan menyamakan langkah dengan langkahku.

"Bareng."
"Pelajarin yang bener sekarang. Biar bisa."
"Siap, Pak."

Sumpah, dia kayak mainan pake batre yang batrenya ga habis-habis.

***

Namanya Ajeng. Dia mengenakan kaos putih dan celana jins. Jilbabnya berwarna pelangi. Aku tak terlalu paham tentang selera perempuan dalam memilih jilbab. Hal yang sangat jelas adalah, aku tidak dapat menyebutkan seluruh warna yang ada pada jilbabnya. Paduan antara pink, ungu, putih dan lainlain. Sepatunya memiliki tali dan talinya tidak diikat.

"Tali sepatu kamu lepas tuh," ucapku.
"Nggak kok. Emang nggak diiket." Hah? Aneh.
"Kenapa? Ntar jatuh kalau keinjek orang."
"Nunggu ada yang ngiketin aja."
Fixed. Aneh.
"Fotoin dong." Pintanya. Aku mengambil ponselnya.
"Sini. Mau kayak gimana?"
"Terserah. Asal nggak keliatan gendut."
Makin aneh.
"Nih, bagus nggak?" Tanyaku.
"Bagus. Nggak keliatan gendut."
"Lagian siapa yang gendut? Nggak kok."

Serius, bagiku dia tidak gendut. Dasar perempuan!

"Masaaaaaaaaa?????"
Sumpah demi apapun, kenapa dia menjadi sangat histeris saat aku mengatakan dia tidak gendut? Dia tertawa sangat puas. Padahal aku tak tahu apa yang lucu. Tidak ada yang dapat aku tertawakan.

"Hyaaaa!!! Siap yak. Aku bakal masukin ke IG Story aku dan plis bilang aku ga gendut."
"Ogah."
"Pliiiiisssssssss."
"Yaudah cepet."

***

Namanya Ajeng. Aku tak terlalu senang terlibat dengan euforia orang lain. Apalagi aku tipikal orang yang sangat cuek. Tapi melihatnya sangat menikmati permainan demi permainan, membuatku senang. Sangat menyenangkan ada orang seantuasias Ajeng. Selama ini, aku tak pernah melihat perempuan setotal dia dalam melakukan semuanya. Dia bahkan menenangkan anak-anak yang gelisah ingin bermain gasing, dengan memperlambat ritmenya dalam melilit tali. Dia tidak dapat memainkan gasing, hanya saja tidak ingin mengecewakan orang lain. Dia juga teramat menikmati bermain tandertander. Menyenangkan dapat melihatnya.

"Kamu bisa main egrang?"
"Bisa."
"Wah..."
"Kenapa? Kamu mau bisa juga?"
"Nggak bisa. Udah coba." Ucapnya kecewa.
"Yaudah nanti saya ajarin."
"Males. Akunya gendut. Nanti susah ngajarinnya."
"Dapet kabar dari mana sih kalau kamu gendut?"
"Aku sendiri. Sebikini bottom juga tau aku gendut."
"Yang nyebarin gosipnya siapa? Tuan krab?"
"Bukan. Lumbalumba yang punya pemancar itu."
"Dih, garing."

Saat aku mengatakan leluconnya garing, dia malah tertawa lepas. Padahal tidak lucu.

"Lucu banget karena becandaan aku ga lucu." Dia masih terpingkal-pingkal.
Aku tersenyum melihatnya. Yaudah, lucu deh. "Iya, lucu deh buat kamu mah."

Waktu berjalan dan festivalpun berakhir. Aku mengemasi barang-barang kemudian tak lagi menemukan sosok Ajeng. Biar saja. Untuk cerita nanti nanti. Kalau pernah, ada perempuan aneh yang sangat menyukai permainan tandertander.